Buzzer Jadi Solusi BPJS?

Buzzer Jadi Solusi BPJS
Suasana di kantor pelayanan BPJS Kesehatan di RSUD Bogor, Jawa Barat. (Foto: Jawa Pos)
3 minute read

“You think you got a little buzz, so now you can’t get stung?” – Joey Bada$$, penyanyi rap asal Amerika Serikat (AS)


PinterPolitik.com

Pada sekitar bulan Februari 2020, Barcelona pernah diterpa isu miring terkait penggunaan jasa buzzer lho, gengs. Baru tahu, kan?

Kejadian itu berawal dari kerja sama klub tangguh Catalunya tersebut bareng 13 Ventures. Perusahaan ini diminta sama Barcelona buat memantau ragam berita di jagat dunia maya. Saking mesranya hubungan dua kelompok ini, 13 Ventures diduga juga turut membantu Barcelona untuk menyerang pihak-pihak yang melawan kebijakan klub lewat buzzerbuzzerandalnya, cuy.

Akibatnya, mulai dari Puyol, Xavi, sampai Messi disinyalir jadi korban serangan akun-akun bodong di media sosialkarena mereka semua dianggap jadi ganjalan setiap klub membuat kebijakan. Ya, meski Blaugrana – julukan Barcelona – menampik tuduhan itu, tapi dengungan lebah sudah terlanjur mengenai telinga pemirsa.

Hal ini sama kasusnya dengan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, gensg. Adalah BPJS Kesehatan yang gak bosan-bosannya bikin masalah. Sebenarnya sih, capek mimin lihatnya, tapi, ya bagaimana lagi, kalau dibiarkan malah akan semakin menjadi tingkahnya.


Kejadiannya dimulai bulan Desember 2019 saat BPJS Kesehatan membuka pendaftaran untuk posisi buzzer. Nah, loh, ngapain sih harus ambil jasa buzzer segala?

Sekretaris Umum BPJS Kesehatan Kisworowati sih bilangnya buat memantau hal-hal yang jadi keluhan warganet terkait kesehatan. Nantinya, buzzer akan memotret dan meringkas keluhan itu menjadi masukan biar bisa ditindaklanjuti secara kelembagaan lewat program kerja (proker) nasional.

Baik sih, gengs, niatnya BPJS Kesehatan nih. Tapi ngomong-ngomong, kalau memang tugasnya hanya seperti itu, bisa kelleus gak perlu ambil tenaga kerja yang memakan biaya mahal. Cukup kerja sama bareng kampus-kampus negeri kan bisa. Di samping tidak akan bertele-tele, juga biayanya lebih murah.

Jujur saja deh, andai jadi kerja sama ini pasti bisa mencatatkan diri sebagai proker nasional yang biayanya paling sedikit, secara mahasiswa ini dikasih makan, minum, dan uang kopi sudah syukur minta ampun ya. Hehehe.

Mending kan daripada buka lowongan tenaga buzzer? Sudah ngabisin anggaran, juga citra lembaganya pasti buruk. Untung saja BPJS sudah sadar lewat ralatan dari Sekretaris Utamanya yang bilang bahwa dia, “Melarang humas melakukan kontrak buzzer, walaupun tujuan kehumasan sangat baik. Namun hal tersebut tidak sejalan dengan kebijakan umum yang ada. Hal ini selanjutnya akan ditindaklajuti sesuai ketentuan internal BPJS Kesehatan.

Memang sih, buzzer tidak selamanya sumbang di telinga rakyat. Di Spanyol, buzzer pernah menjadi lokus gerakan aktivis yang mampu menggerakkan warga supaya tidak lagi memberikan suara elektoralnya buat partai besar karena dinilai ngikut aja apa kata Amerika Serikat (AS).

Iya, memang benar fakta buzzer yang baik itu ada. Lagian mimin juga gak bilang kan kalau niat BPJS dulu buat ngerekrut buzzer ini buruk.

Mimin hanya mau menekankan, kalau membaca buzzer ini harus bijak, cuy. Indonesia ini kan pengen-nya semua lembaga transparan dan jujur ya.

Masa mau pakai topeng di medsos? Kan gak etis dan malu dilihatnya. Masa masalah apapun jawabannya pakai buzzer?Upsss. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.