BPS dan Kemen BUMN Beda Data Soal Ekspor Masker

Foto: Jawa Pos
3 minute read

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menampik masih adanya ekspor masker yang dilakukan oleh perusahaan pelat merah hingga Februari 2020. Bantahan ini terkait  data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang  menunjukkan adanya lonjakan ekspor masker pada periode tersebut.


PinterPolitik.com

Staf Khusus Kementerian BUMN, Arya Sinulingga mengatakan sudah tak ada lagi ekspor masker di Februari. Bahkan, perusahaan pengekspor masker juga sudah diminta menghentikan penjualan ke luar negeri meski pemesanan lama sudah mengantre.

“Itu, Februari nggak ada ya, tapi kalau Januari memang terakhir.  Karena Januari kita masih proses yang lama, pemesanan yang lama dan sudah kita hentikan juga,” kata Arya di Jakarta, Senin (16/3).

Sebaliknya, saat ini perusahaan BUMN justru menunggu impor bahan baku masker dari India untuk memenuhi kebutuhan masker di dalam negeri. Permintaan impor ini dilakukan oleh anak usaha PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).

“Perusahaan yang membuat masker, ini kan untuk kainnya, ada kainnya khusus itu dari India diambil. Dari Tiongkok sih belum bisa, tapi kita lagi usaha terus karena mereka kan penghasil masker, kita lagi usaha, lagi dinegosiasikan dengan Tiongkok lah. Dan kita lihat kondisi mereka juga, kan mereka sekarang sudah mengalami penurunan masalah flu (Covid-19) ini ya,” jelas Arya.


Pernyataan Arya menanggapi laporan data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang terjadinya lonjakan ekspor masker sepanjang Februari 2020 lalu yang tergambar dari naiknya ekspor barang tekstil jadi lainnya yang ada dalam golongan barang HS 63.

Nilai ekspor ini tercatat naik menjadi US$ 89,8 juta (Rp 1,3 triliun) dari sebelumnya yang hanya senilai US$ 17,8 juta (Rp 267,8 miliar) di Januari.

“Kalau kenaikan barang tekstil di antaranya komoditas masker masuk di sini. HS 63,” kata Yunita Rusanti, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Senin (16/3).

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan,  perusahaan BUMN pada April 2020 berencana  memproduksi masker sebanyak 6 juta pcs guna mengantisipasi penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Erick mengatakan, kendala saat ini ialah bahan baku untuk masker yang biasanya diandalkan dari Tiongkok. BUMN farmasi, katanya, akan memproduksi 6 juta masker pada April mendatang guna mengantisipasi penyebaran Covid-19 di Indonesia.

“Hanya dari BUMN saja. Yang kita akan produksi 6 juta, bahan bakunya masih ada. Makanya kemarin saya bilang kalau bahan baku dari Tiongkok habis, kita cari Eropa, sekarang Eropa mulai kejadian seperti ini ya kita mesti cari di India, “Erick, di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (11/3).

Karenanya Erick berharap,  ke depannya masalah bahan baku masker yang selama ini diimpor dapat diproduksi di dalam negeri, sehingga tidak tergantung pada negara lain lagi. (R58)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.