Berani Puan Tiru Nancy Pelosi?

Berani Puan Tiru Nancy Pelosi
Ketua DPR Puan Maharani berpose bersama anggota-anggota DPR Fraksi PDIP pada pagelaran pelantikan DPR, MPR, DPD RI pada awal Oktober 2019. (Foto: Antara)
3 minute read

“Used to go to DC, see Nancy Pelosi. I spoke in front of congress fighting for my country” – Wyclef Jean, penyanyi rap asal Haiti


PinterPolitik.com

Hey, gengs, coba mimin ajak berselancar ke Amerika Serikat (AS) sebentar, ya. Kita belajar dari kisah perseteruan Ketua House of Representatives (DPR) AS yang visavis dengan Presiden AS Donald Trump.

Ibu Pelosi ini sering lho terlibat adu “kekuatan” dengan Trump. Soal proses impeachment atau pemakzulan misalnya, Pelosi dulu menjadi salah satu sosok yang paling aktif dalam mendorong pemakzulannya.

Selain itu, ada satu drama seru saat Pelosi menolak berjabat tangan dengan Trump, sekaligus melakukan tindakan keras melalui aksi perobekan kertas pidato Presiden AS tersebut.

Biuh, pokoknya seru deh drama perseteruan dua tokoh kontroversial ini. Tindakan Pelosi dengan semangat yang diperjuangkannya membuat pemirsa berdecak kagum.

Pasalnya, Pelosi mempunyai alasan tersendiri melakukan itu semua, yakni sebab Trump dinilai telah menyalahgunakan wewenang dan menghalangi penyelidikan Kongres AS. Ini mungkin suatu sikap yang membuat mimin perlu mengangkat topi untuk menghargai keberaniannya.

Yam memang begitu, kan, seharusnya DPR itu. Harus berani sama Presiden sekalipun. Begitulah moral value yang bisa kita dapat dari negeri Paman Sam. Sekarang, mari kembali ke Indonesia.

Di negara kita, ada juga perseteruan ‘sembunyi-sembunyi’ atau ‘sayu-sayu’ antara DPR yang visavis Istana. Dalam hal ini Ketua DPR Puan Maharani dan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Seharusnya, kisah perseteruan mereka ini bisa lebih seru dari yang ada di AS. Selain dari dua lembaga tinggi yang kerap terlibat konflik, Bu Puan dan Pak Jokowi ini dari satu partai lho. Kayak perang saudara gitu. Hehehe

Sayangnya, harapan mimin gak kesampaian, padahal cuma ingin lihat seberapa kencang masing-masing berargumen atas nama keadilan sosial. Sebab, kata teori sosial, konflik bisa menciptakan perubahan sosial.

Siapa tahu, kalau konflik mereka dikelola dengan baik (meski ketat), perubahan sosialnya juga baik. Lha, daripada stagnan begini – pada main aman.

Lihat saja. Saat Puan melempar kritik ke Pak Jokowi begini, “Pemerintah perlu menjelaskan kepada rakyat saat ini posisi Indonesia tepatnya ada di mana dalam kurva pandemi Covid-19 serta bagaimana prediksi perkembangannya ke depansehingga rakyat mengetahui jelas mengapa disusun protokol kenormalan baru.”

Mbak Puan kelihatan jengkel sekali deh, ya. Soalnya, doi menganggap kalau pemerintah ini masih abu-abu: lempar rencana tanpa protokolnya. Jadi, seakan-akan, rakyat ini cuman diminta nurut saja tanpa diberi hak untuk mengetahui seluk-beluk di balik segala plan pemerintah.

Nah, sebagai anak emas partai wong cilik, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), dan tepat menjabat sebagai Ketua DPR, Mbak Puan gak mau berdiam diri. Dia langsung tampil sebagai pembela utama kaum menengah ke bawah.

Sangar sih. Tapi, kalau cuma omong saja tanpa ada tindakan, ya buat apa, cuy? Mbak Puan ini harus tahu kalau rakyat bosan dengan aksi mulut saja lho.

Sampai-sampai si Sammy, pelawak keren, berkicau, “Interpelasi dong….. Gitu aja harus diajari pelawak” di akunnya @NOTASLIMBOY. Lagian, di situs DPR sendiri kan sudah ada tuh tiga hak DPR, yakni hak interpelasi, hak angket, dan hak bersuara.

Jadi, kalau mau tahu keterangan dari Istana terkait new normal ini, ya panggil saja untuk ditanya-tanya. Jangan hanya ramai di media yang bising ini. Hehehe.

Mimin sih sepakat kalau Mbak Puan bertindak dengan memakai hak ini. Biar jelas gitu lho. Sekali-kali berani niru Pelosi kan gak bakal bikin suara partai turun toh? Upsss. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.