Beda Kelas Anies-Denny Siregar

Anies Tempo
Anies Baswedan (Foto: Reuters/Beawiharta)
3 minute read

“Segala perbedaan itu, membuatmu jauh dariku,” – Ari Lasso, Perbedaan


Pinterpolitik.com

Majalah Tempo kembali menimbulkan sensasi. Setelah membikin heboh karena menampilkan wajah presiden Jokowi bersama siluet sosok berhidung panjang, sekarang media investigasi itu menggambarkan sosok Gubernur DKI Jakarta bersama dengan lem Aibon di sampul depannya.

Wah, kalau melihat gambarnya, memang berani ya Tempo ini dalam urusan ilustrasi sampul depan. Ngomong-ngomong Pak Anies ngerasa “lengket” gak ya gara-gara digambarkan tempo berada di sekitar lem berbau khas tersebut?

Jika melihat responsnya di Twitter, Pak Anies sih sepertinya gak terlalu menganggap sampul depan Tempo itu sebagai masalah besar. Mantan Menteri Pendidikan itu justru berterima kasih atas ilustrasi itu dan menganggapnya sebagai bagian dari demokrasi.

Eh, ternyata gak Cuma itu, Pak Anies juga tampaknya menganggap bahwa sampul dari Majalah Tempo itu adalah hal yang wajar. Bagi mantan rektor Universitas Paramadina itu, kalau gak membuat sampul seperti itu ya bukan Tempo namanya.

Hmmm, tanggapan yang lumayan santai ya dari Pak Anies. Kayaknya kalau kebanyakan orang digambarkan berlumuran lem seperti itu mungkin akan naik pitam, kok Pak Anies malah santai-santai aja ya? Apakah mungkin Pak Anies ini memang orangnya terbuka dengan kritik seperti itu?

Terlepas dari hal itu, tanggapan santai Pak Anies ini mengingatkan kita pada respons penuh amarah membara dari pendengung-pendengung Pak Jokowi ketika sang presiden itu disandingkan dengan bayangan berhidung panjang di sampul depan Tempo.

Kala itu, pendengung macam Denny Siregar bak kebakaran jenggot menanggapi sampul depan itu dengan memberikan kata-kata pedas seperti mengganti Tempo dengan tempe. Pendengung seperti Denny  SIregar ini kelihatannya tidak bisa menerima kalau junjungannya dikritik oleh media seperti Tempo.

Kalau dilihat-lihat, ada beda kelas ya dari cara Anies Baswedan dengan pendengung macam Denny Siregar dalam menghadapi kritik dari media. Kalau Pak Anies menganggap itu sebagai hal yang wajar dalam demokrasi, eh kalau Denny Siregar dan kawan-kawan malah tak terima dan mencoba menurunkan kredibilitas Tempo.

Sepertinya, kalau memang konsekuen dengan demokrasi, respons seperti Pak Anies ini sih yang diharapkan dalam menanggapi kritik. Terlepas dari ini tuh pencitraan doang atau apa, ya setidaknya sang gubernur gesturnya lebih baik dalam menjaga demokrasi ketimbang Denny Siregar cs.

Eh, tapi ya, kalau Pak Anies memang beneran tidak anti untuk dikritik, coba buka lagi dong itu anggaran Jakarta, jangan malah ditutup. Kan memang itu maksudnya, dibuka biar dapat masukan dari masyarakat. Kalau ditutup kan percuma. Ya itu kalau memang serius mau nunjukin diri sebagai sosok terbuka dari kritik sih. (H33)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.