Balasan Jokowi pada Uni Eropa

Jokowi Balas Dendam ke Uni Eropa
Pertemun Presiden Jokowi dengan Delegasi Uni Eropa (Foto: Katadata)
3 minute read

“Negotiations are a euphemism for capitulation if the shadow of power is not cast across the bargaining table.” – George P. Shultz


PinterPolitik.com

Sekali-kali mari kita ngomongin hubungan Indonesia dengan negara-negara asing nun jauh di benua biru sana. Uni Eropa, raksasa biru ini sedang bermasalah dengan Indonesia soal minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

Perlu diketahui kalo ngomongin soal negara ada yang namanya kepentingan nasional. Karena Uni Eropa merupakan kumpulan negara-negara Eropa dengan visi yang sama, maka mari disebut kepentingan regional.

Uni Eropa yang terdiri dari mayoritas high income countries punya kepentingan yang berbeda dengan negara-negara berkembang seperti Indonesia yang cenderung berfokus pada pertumbuhan ekonomi.


Saat Indonesia sedang gencar-gencarnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, Uni Eropa dengan kepentingan melestarikan lingkungan mendiskriminasikan produksi CPO dalam negeri melalui Renewable Energy Roadmap (RED) mengenai biofuel yang ngeribetin produsen dalam negeri.

Kenapa ribet? Jadi gini, produksi CPO di Indonesia kerap dinilai menyumbang emisi karbon di atmosfer dan menimbulkan deforestasi masif yang mengancam kelestarian ekosistem. Inilah yang menjadi concern Uni Eropa terhadap produksi CPO Indonesia sehingga dikenakan bea masuk sebesar 8-18%.

Selain bea masuk Uni Eropa pun gak lupa ngasih syarat layaknya penerimaan CPNS, seperti aturan teknis mulai dari spesifikasi bahan baku, proses pembuatan, hingga dampaknya terhadap lingkungan. Persyaratan yang ribet ini pun dinilai menjadi hambatan bagi perdagangan CPO Indonesia-Uni Eropa.

Jokowi yang ambisius terhadap ekonomi pun tak terima dengan sikap Uni Eropa. Kalo ngotot begitu ya CPO-nya kita pake sendiri aja. Jadi CPO rencananya akan dicampur sebagai bahan bakar minyak solar. Ini pun dinilai akan mengurangi ketergantungan impor migas Indonesia yang dianggap menyebabkan defisit neraca perdagangan.

Selain memberdayakan CPO yang udah terlanjur diproduksi, Jokowi pun tak lupa menggertak Uni Eropa dengan membatalkan pesanan airbus sebanyak 200 unit. Dengan Lion Air, Garuda dan Citilink sebagai pemesan utama.

Oke deh Uni Eropa emang merupakan salah satu raksasa ekonomi di dunia yang punya daya tawar tinggi sehingga bisa nuntut berbagai negara buat ngikutin standar mereka sebagai high-income countries.

Namun kembali lagi, tiap negara kan punya kepentingan nasional masing-masing. Gamau lah Pak Jokowi melihat Uni Eropa memperlakukan Indonesia seperti itu. Agaknya Uni Eropa lupa kalo Indonesia juga punya daya tawar soal airbus dan potensi swasembada migas.

Uni Eropa harusnya paham kalo dalam situasi seperti ini, justru merekalah yang punya potensi rugi lebih besar. Jadi jangan anggap enteng Indonesia apalagi dibawah komando Pak Jokowi. Gas terus Pak Jokowi, jangan kasih kendor. (M52)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.