Arumi, ‘Srikandi Baru’ Puan

Arumi Srikandi Baru Puan
(doc: klatenupdate.com)
2 minute read

Arumi resmi menjadi “srikandi baru” PUAN. Maksudnya gimana?


PinterPolitik.com

[dropcap]F[/dropcap]enomena artis berpolitik udah bukan hal baru dalam dunia politik tanah air. Partai Amanat Nasional (PAN) termasuk salah satu partai yang bisa diidentikan sebagai partai para artis. Soalnya banyak artis yang menjadi kader partai tersebut. Misalnya ada nama Eko Patrio, Primus Yustisio, Dwiki Darmawan, Ikang Fawzi, Marissa Haque, Dessy Ratnasari, Hengky Kuniawan, Ayu Azhari, Jeremy Thomas, Lucky Hakim, Anang Hermansyah hingga Zumi Zola yang saat ini jadi tersangka kasus korupsi. Ckckck, luar biasa. Partai PAN bisa berubah menjadi Partai Artis Nasional nih, wkwkwk.

Baru-baru ini PAN kembali mendapat tambahan kader baru dari kalangan artis. Ia adalah Arumi Bachsin. Istri Emil Dardak ini ternyata udah menjadi kader PAN sejak Desember tahun lalu. Ia bahkan masuk dalam daftar pengurus DPP PUAN (Perempuan Amanat Nasional). Wowww, manjay alias mantap jaya.

Dengan  bergabungnya Arumi ke dalam PAN, maka semakin menambah deretan panjang artis yang terjun ke dunia politik. Mungkin ada yang menilai bahwa fenomena artis banting setir ke dunia politik adalah salah satu strategi Parpol untuk menarik simpati masyarakat. Mungkin itu ada benarnya, tapi saya pikir nggak masalah. Asalkan mereka bisa memberikan kontribusi yang baik bagi kemajuan bangsa ini.

Setiap warga negara Indonesia memiliki hak untuk berpolitik. Para artis termasuk warga negara Indonesia. Maka, para artis juga berhak untuk berpolitik, bukan?

Nah, bicara soal warga negara, saya kembali terkenang akan gagasan seorang filsuf Yunani bernama Plato tentang warga negara. Plato menetapkan bahwa warga negara dibagi dalam tiga kelas yakni rakyat biasa, prajurit, dan penguasa.

Agar suatu negara dapat dapat mencapai kehidupan yang adil dan makmur, maka tiga kelas ini perlu bekerja sama. Kelas penguasa yang terkenal dengan segala kecakapan dan kebijaksanaannya harus menciptakan peraturan yang adil untuk semua kelas. Sementara itu, kelas prajurit harus berusaha menjadi ‘tameng’ yang kokoh untuk menjaga stabilitas dan keutuhan suatu negara. Sedangkan kelas pekerja   harus bekerja keras untuk mencukupi sandang, pangan dan papan dalam suatu negara.

Kalau begitu, posisi PAN masuk dalam kelas penguasa. Sejauh ini apakah PAN sudah cukup memberikan kontribusi yang baik bagi bangsa Indonesia? Ataukah hanya sekadar menjadi partai penggembira dalam arena politik nasional? (K-32)