Akan Kuhajar Kepalamu, Istriku!

Akan Kuhajar Kepalamu, Istriku!
3 minute read

Hari ini aku bekerja keras. Tapi, sampai di rumah aku kecewa pada istriku.


PinterPolitik.com

Kamu tidak tahu, diriku lelah bekerja, istriku? Kamu seharusnya bersyukur aku punya pekerjaan tetap dan bisa membelanjakanmu lauk pauk sayur mayur untuk kita. Kamu seharusnya bersyukur, aku gigih bekerja. Tidak seperti kamu yang cuma bisa memasak dan mengurus anak di rumah.

Tapi, kamu tahu, kamu tidak berguna?

Ini sudah sembilan tahun pernikahan kita. Tapi ketika aku capai-capai pulang bekerja, apa yang kamu lakukan? Kamu malah tidur. Kamu tidak memenuhi nafsu seks ku sore itu. Kamu memasak masakan yang sama dengan hari kemarin. Padahal, cuma itu yang perlu kamu lakukan, dan kamu tidak bisa! Bukan cuma tak berguna, kamu sama sekali tidak menghormatiku!

Tidak apa lah kalau begitu. Aku tidur saja, menjauh dari kamu yang tidak berguna ini. Anak kita? Biar saja dia berlari ke kamu. Kamu kan ibu, urusanmu hanya mengurus anak. Aku capai sekali jadi bapak, mencari duit yang aku kontrol sepenuhnya untuk kamu. Dan tentu saja, mengurus dan menimang anak kita yang berumur delapan dan lima tahun sama sekali bukan urusanku.


Tapi, lagi-lagi apa yang kudapat darimu? Bahkan saat aku tidur, kamu membangunkanku! Kamu mengusikku! Kamu sudah gila!

Aku tidak mendengar apapun yang kamu bilang. Mungkin kamu butuh dibantu membenarkan plafon bocor, aku tidak peduli. Mungkin kamu butuh menceritakan keluh kesahmu, aku lebih tidak peduli. Mungkin anak-anak kita mengajakku bermain, aku tidak peduli lah! Itu tugasmu, istriku!

Aku sama sekali tidak mendengar. Yang aku mau hanya tidur lelap sore itu sepulang bekerja. Dan kalau kamu mengganggu, aku akan menghajarmu.

Dan tanpa ragu, tanganku berlari sendiri ke kotak perkakas, kotak yang aku raih saat mau mengutak atik plafon rumah. Kuambil gagang kayu dengan kepala baja yang biasa kunamakan martil. Martil itu tak ingin kupakai untuk memaku plafon bocor kita.

Martil itu ingin kulayangkan ke kepalamu, istriku.

Aku akan hajar kepalamu dengan paluku ini!

Aku hajar istriku

Detik selanjutnya, aku lihat istriku terjatuh di lantai. Kepalanya mengeluarkan darah, matanya seperti tak melihat. Kuguncangkan bahunya, tak bereaksi sedikit pun. Kulihat tetanggaku masuk menolong, istriku diangkat dan seseorang mengatakan,

“Lekas selamatkan nyawanya, dia kritis!”

Detik selanjutnya, aku sudah duduk di kursi pesakitan. Pengadilan mengatakan aku melanggar UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Aku dikenakan Pasal 5 a dan b, perkara aku menyakiti fisik dan psikis istriku.

Hah? Apa masalahnya? Istriku tidak mati kan?

“Sudah gila kamu! Masuk kamu ke penjara!” bentak hakim.

Istriku, sudah aku geram sekali padamu, sekarang kamu memenjarakanku.

Kamu tahu kamu tidak berguna? (R17)