#2019GantiPresiden, Masuk Pak Eko-nomi!

#2019GantiPresiden, Masuk Pak Eko-nomi!
Foto : Istimewa
3 minute read

“Masukkk Pak Ekooo!”


PinterPolitik.com

Pengamat politik dari Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti kembali bercuap. Katanya soal visi-misi gerakan tagar #2019gantipresiden harus diperjelas agar tidak menyebabkan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat. Saran Ray seperti ini karena ia belum mengetahui apa tujuan dari gerakan tersebut.

Hmmm, kayaknya Ray kurang piknik nih. Jelas-jelas gerakan tagar punya visi ‘ganti presiden’ dan misi ‘ganti sistem pemerintahan’. Masa gitu aja enggak paham. Memangnya gerakan tagar itu lembaga swasta atau lembaga pemerintah, segala harus sebarin pamflet yang berisikan visi-misi yang jelas dan gamblang? Wkwkwk, isa ae bang.

Oh iya gengs, Ray juga sempat bertanya jika menyebut #2019gantipresiden apa itu artinya penggantinya adalah Prabowo? Atau #2019gantipresiden itu penggantinya nanti saja? Atau #2019gantipresiden yang sesuai dengan visi misi pendukungnya yang ingin merubah sistem negara?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin jawabannya: “Masuk Pak Ekooo”. Wkwkwk, bercanda gengs.


Btw, ada yang bisa jawab enggak tuh pertanyaannya Pak Eko? Eh, typo lagi, maksud eyke pertanyaannya Bang Ray gengs. Kalau eyke mah gampang aja jawabnya, pokoknya sudah jelas lah gerakan tagar ganti presiden itu minta Prabowo jadi presiden. Wong yang buat gerakannya kader PKS, masa sih penggantinya Christiano Ronaldo. Emang sanggup bayarin harganya yang mahal?Wkwkwk.

Sejauh ini Ray melihat pendukung gerakan #2019gantipresiden hanya terlihat tidak menyukai Jokowi untuk beberapa alasan. Beberapa di antaranya adalah isu pembengkakan utang negara, tenaga kerja asing, dolar yang terus naik, bahkan hanya karena Jokowi menggunakan stuntman saat tampil di pembukaan Asian Games 2018.

Alah, bang bang, ngapa stuntman yang dibawa-bawa ya? Duh, memang ya gengs yang namanya orang kalau udah enggak suka, apa pun yang dilakukan pasti terlihat buruk. Jadi berasa makan cokelat rasa tempe gitu. Wkwkwk.

Nah, intinya Ray itu masih bingung dengan visi misi gerakan tagar gengs. Meski demikian, ia tetap mendukung gerakan tagar yang hadir di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya setiap warga Indonesia harus menghargai perbedaan pendapat, tidak terkecuali pemerintah.

Dari pernyataan Ray di atas gengs, doi selaku pengamat kok jadi buat eyke bingung ya? Gerakan tagar memang sebuah pendapat dan memiliki hak untuk bersuara. Tapi masa sih kita harus larang pemerintah bubarin gerakan tagar itu? Click To Tweet

Mbok Pilpres kan tinggal tahun depan, kalau mau ganti presiden ya nanti aja di bilik suara, atau nanti aja nunggu masa kampanye dimulai. Betul apa betul?

Baca juga :  Agnez Mo dan Identitas Keindonesiaan

Daripada bikin rusuh lalu memprovokasi menjelang tahun Pilpres kayak gini, mending bantu cari solusi buat pemerintahan Jokowi dalam mengatasi kemungkinan terjadinya krisis ekonomi. Kalaupun Prabowo menang di Pilpres 2019 tapi Indonesia dalam keadaan krisis kan yang repot doi juga. Betul apa betul? (G35)